Jakarta – Pemerintah Inggris menyatakan kemarahan atas komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait pernyataannya bahwa tentara NATO tidak bertempur di garis depan di Afghanistan. Pernyataan tersebut dinilai tidak menghargai pengorbanan pasukan sekutu, khususnya Inggris.
Komentar itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan pada Kamis (22/1/2026). Dalam pernyataannya, Trump menyebut pasukan NATO memang mengirim tentara ke Afghanistan, namun berada di belakang garis depan. Ia juga kembali mengulang klaim bahwa NATO tidak akan membantu Amerika Serikat jika diminta.
“Mereka akan mengatakan mereka mengirim beberapa pasukan ke Afghanistan. Dan memang benar, mereka agak di belakang, sedikit di luar garis depan,” kata Trump, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Inggris, mengingat sebanyak 457 tentara Inggris gugur dalam pertempuran di Afghanistan setelah serangan teror 11 September 2001 di AS. Setelah peristiwa tersebut, Inggris dan negara-negara sekutu NATO lainnya bergabung dengan Amerika Serikat di Afghanistan sejak 2001, menyusul diaktifkannya klausul keamanan kolektif NATO.
Selain Inggris, sejumlah negara sekutu NATO seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Denmark juga kehilangan personel militernya dalam konflik tersebut.
Menanggapi pernyataan Trump, Menteri Kesehatan Inggris Stephen Kinnock mengatakan Perdana Menteri Keir Starmer diperkirakan akan membahas isu ini langsung dengan Presiden AS.
“Saya pikir dia pasti akan mengangkat masalah ini dengan presiden. Perdana Menteri sangat bangga dengan angkatan bersenjata kita dan akan menjelaskan hal itu,” kata Kinnock kepada Radio LBC.
Kinnock menilai pernyataan Trump “jelas salah” dan “sangat mengecewakan”. Ia menegaskan bahwa satu-satunya aktivasi Pasal 5 NATO dalam sejarah dilakukan justru untuk membantu Amerika Serikat pasca-serangan 11 September.
“Apa yang dia katakan tidak masuk akal. Banyak tentara Inggris dan tentara dari sekutu NATO Eropa lainnya mengorbankan nyawa mereka demi mendukung misi yang dipimpin Amerika di Afghanistan dan Irak,” ujarnya.